Halaman

Selasa, 22 Oktober 2013

NIAT KETIKA MENIKAH



Sebagian pernikahan menjadi penuh barakah karena niat awal ketika

memutuskan untuk menikah. Al-Idris Asy-Syafi'i menikah semata karena ingin
mendapatkan ridha dari pemilik pohon delima atas apa yang ia makan. Ia bersedia
menikah asal delima yang sudah dimakannya diikhlaskan dan pemiliknya ridha. Maka
ia menikah dengan Fathimah, putri pemilik pohon delima itu. Dari rahim istrinya,
lahir Muhammad bin Idris yang kelak dikenal sebagai Imam Syafi'i karena keutamaan
ilmu dan akhlaknya. Pernikahan Al-Idris melahirkan anak yang sangat penuh
barakah. Sampai sekarang kita masih mengambil ilmu dari apa yang diwariskan oleh
Imam Syafi'i, buah pernikahan Al-Idris dan Fathimah yang diridhai.
Ada contoh lain pernikahan karena menjaga diri dari hal yang meragukan,
semata-mata demi mencapai keselamatan akhirat. Imam Bukhari dalam hadis
shahihnya pernah meriwayatkan sebuah cerita dari Rasulullah.
"Seorang laki-laki," kata Rasulullah Saw., "membeli sebidang tanah dan
menemukan sebuah tempayan berisi emas dalam tanah itu. Katanya kepada si penjual,
'Ambillah emasmu, karena hanya tanah yang saya beli dari engkau dan saya tidak
membeli emas'. Kata yang punya tanah, 'Tanah itu beserta isinya telah saya jual
kepada engkau'. Keduanya lalu minta putusan kepada seseorang. Kata orang itu,
'Adakah kamu berdua mempunyai anak?' Seorang di antara mereka berkata, 'Ya, saya
mempunyai seorang anak laki-laki'. Kata yang seorang lagi, 'Ya, saya mempunyai
seorang anak perempuan'. Kata hakim tadi, 'Kawinkanlah anak perempuan itu dengan
anak laki-laki ini dan belanjailah dengan keduanya dari harta itu dan
bershadaqahlah'." (HR Bukhari dalam shahihnya, hadis No. 1513).
Suatu ketika seorang pemuda ahli 'ibadah mendatangi pelacur karena desakan
keinginan yang kuat. Setelah berada dalam kamar berdua dengan pelacur itu, ia
merasakan ketakutan yang amat sangat mengingat pengawasan Allah yang tak pernah
lepas serta kedudukannya di hadapan Allah. Maka ia berkeringat dan pucat karena
takutnya. Ia meninggalkan tempat pelacuran itu dan tidak mengambil uangnya
kembali, meskipun pelacur itu berusaha menahannya.
Setelah pemuda itu pergi, pelacur itu merenung. Seharusnya dialah yang lebih
takut kepada Allah mengingat perbuatan-perbuatannya. Maka ia berniat bertaubat dan
mencari pemuda itu agar dinikahi. Tetapi ketika sampai, ia dapati pemuda itu
meninggal seketika karena rasa takutnya saat melihat kedatangan pelacur itu.
Maka ia bertanya, "Adakah 'Abid (ahli 'ibadah) ini mempunyai saudara laki-laki
yang belum menikah?"
Orang-orang menunjukkan saudaranya yang juga seorang ahli 'ibadah, tetapi
sangat miskin. Ia kemudian datang meminta untuk dinikahi demi membersihkan diri.
Dari pernikahan itu lahir tujuh orang anak yang shaleh. Begitu cerita Zadan dari Ibnu
Mas'ud dari Salman Al-Farisi.
Kado Pernikahan 111
Niat banyak mempengaruhi barakah tidaknya pernikahan. Sebagian dari niat
menikah, dijamin akan penuh dengan barakah selama-lamanya. Istri barakah bagi
suami, suami barakah bagi istri.
Allah 'Azza wa Jalla insya-Allah juga memberi barakah yang sangat besar
kepada seorang wanita yang menyerahkan diri kepada laki-laki yang ia mantap
dengan akhlak dan agamanya, semata karena mengharapkan ridha-Nya atau karena
ingin menjaga diri dari dosa. Apalagi jika laki-laki itu seorang yang masih sendirian.
Rasulullah Saw. menjanjikan, "Kawinkanlah orang-orang yang masih
sendirian di antara kamu, sesungguhnya Allah akan memperbaiki akhlak mereka,
meluaskan rezeki mereka, dan menambah keluhuran mereka."
Sebagian orang menikah karena takut mati dalam keadaan membujang. Ini yang
pernah terjadi pada Mu'adz bin Jabal r.a., salah seorang sahabat utama Rasulullah
Saw. Ketika dua orang istrinya meninggal dunia pada waktu menjalar wabah pes,
sedangkan ia sendiri mulai kejangkitan, maka ia berkata, "Kawinkanlah aku. Aku
khawatir akan meninggal dunia dan menghadap Allah dalam keadaan tak beristri."
Ibnu Mas'ud pernah mengatakan, "Seandainya tinggal sepuluh hari saja dari
usiaku, niscaya aku tetap ingin kawin. Agar aku tak menghadap Allah dalam keadaan
masih bujang."
Ada lagi niat-niat menikah yang insya-Allah dimuliakan dan baginya barakah
yang melimpah sampai yaumil-qiyamah. Anda bisa membaca berbagai sumber atau
bertanya kepada orang yang mempunyai hikmah. Atau, Anda bisa bertanya kepada
hati nurani Anda sendiri.

dikutip dari buku rekomended bgt buat yg mau nikah "kado pernikahan untuk istriku"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar